Ciri-Ciri Orang Indonesia
Menurut Mochthar Lubis
Kali ini, saya mau bercerita tentang cirri-ciri orang / manusia Indonesia menurut Mocthar Lubis. Ni article yang pas buat untuk dibaca, saya aja pertama kali membacanya merasa gelik and lucu. Karena ciri-ciri ya pas bangat dengan orang-orang Indonesia menurut saya. Khusus ya untuk orang-orang yang telah saya lihat tentunya. Yang paling menggelikan bagi saya yaitu dari ciri-ciri yang diberikan Mocthar lubis, ada pula yang sama dengan ciri pribadi saya sendiri,, hee. Saya pun jadi malu sendiri mebacanya..he..hee. Nah untuk mengetahui anda termasuk diciri yang mana mari kita lanjutkann.
Ciri-ciri orang / manusia Indonesia menurut Mocthar lubis yaitu:
1. Pertama ni,,,Orang Indonesia itu pandai menyembunyikan apa yang sebenarnya dalam hatinya, dan berusaha selalu mengatakan “tidak” . Dengan berbagai cara serta diselimuti dengan topeng. Mungkin topeng ya sampai berlapis-lapis kali ya,,,dan ada juga lo sampai lupa “wajah” sebenarnya.hee… atau mungkin pake topeng besi,,, biar gak bisa dibuka…jadi yang tau hanya yang Diatas…banyangkan aja ditutupi pake topeng besi permanen,, hee,,,,
2. Kedua,,,Orang Indonesia selalu segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya dan sebagainya. Pokoknya suka melepaskan tanggung jawab pada orang lain, apalagi terjadi kesalahan dan kegagalan. Dan selalu mencari kambing hitam dan tidak pernah mencari kambing putih,,, untuk melepaskan diri,,, biasanya yang menjadi kabing hitam adalah bawahann,,, pokoknya yang dibawah-bawah lah,, , Makanya sering saling lempar tanggung jawab.
3. Ciri yang ketiga adalah jiwa feodalisme, , yang muncul dalam prilaku feodalisme. Contoh hubungan birokrasi, upacara resmi kenegaraan , pengangkatan istri dan anak pejabat dibergai posisi tinggi kenegaraan dll. Orang biasa sangat susah untuk menghadap seorang pejabat apalagi menelepon yaa. Pokok ya banyak prosedurnya dehh,,,yang harus dilalui,,,. Makin panjang jalan yang dilalui untuk menemunya, berarti makin tinggi kewibawaan pejabat tersebut.
Ehh jangan bosan dulu,,, emang agak panjang ni,, maklum aja, orang Indonesia gitu , kalau gak banyak ciri-ciri bukan orang Indonesia namanya,,heee
4. Ciri keempat yaitu orang Indonesia percaya sama takhayul. Bahwasanya pada batu, gunung, , pantai, sungai, keris dan sebagainya mempunyai kekuatan gaib,,, so mesti disembah dan diberi sesajen. Manusia Indonesia sekarang meski udah berpendidikan tingi, masih aja percaya dengan jimat-jimat dan jampe-jampe.. lihat aja siaran telivisi,, ada uka-uka. Ntar apa lagi ya,,???
5. Ciri yang kelima yaitu bahwa watak Indonesia lemah. Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan keyakinannya. Banyak intelektual Indonesia yang menjual keyakinannya demi keselamata dan kesejahtraan dirinya. ,,Wah-wah,,, yang udah intelek aja masih gitu,, apalagi yang gak “dangkal otakya” wahhhh pasti berebutan ni,,,
Katanya factor penyebabnya adalah feodalisme, khususnya adanya prisip “asal bapak senang”.
Gak tau de,,bapak siapa??? Heee
6. Nah kalau ciri yang terakhir,,kita boleh bangga ni. Soalnya Mocthar lubis menyebutkan ciri posif,,,heee. Ciri orang Indonesia yang keenam yaitu artistic. Karena sejak dari dulu hasil ciptaan artistic seniman Indonesia telah mengisi museum-museum terkenal di Eropa…
Nahhh…Pertanyaan terakhirrr…. Anda berada pada ciri yang mana?
Atau anda borong semua ya,,,heeee
Selain cirri yang keenam yang telah disampaikan sebelumya, Mocthar lubis masih mencatat beberapa ciri-ciri lain manusia Indonesia. Namun ciri ini masih tetap ciri yang negative..,,he,,Banyak ya ciri negative ya,,antara lain:
1. Tidak Hemat;
2. Tidak suka bekerja keras kecuali kalau terpaksa
3. Jadi pegawai negeri adalah idaman yang paling utama, khususnya di tempat yang “basah”. Kalau di tempat kering udah mati kali ikannya ya,, heee.
4. Suka menggerutu dibelakang, tidak berani secara terbuka
5. Cemburu dan dengki terhadap orang yang lebih kaya
6. Sikap tidak peduli dengan nasib orang lain.
Mothar lubis juga mencatat ciri-ciri positif dari orang indonesai. Antara lain
1. Kemesraan hubungan antarmanusia
2. Kasih ibu dan bapak pada anak-anaknya
3. Berhati lembut dan suka damai
4. Punya rasa humor yang baik
5. Otaknya cukup encer dan cepat menangkap
6. Sabar
Tunggu kelanjutuannya yaa,, Soal ya masih ada ciri yang lain yang belum sempat saya tulis
Bersambung....
Read More...
19.10.09
Ciri-Ciri Orang Indonesia
17.9.09
ETNOGRAFI DALAM ANTROPOLOGI
Pengertian Etnografi
Etnografi adalah berasal dari kata ethnos yang berarti bangsa dan graphein yang berarti tulisan atau uraian. Jadi berdasarkan asal katanya, etnografi berarti tulisan tentang/ mengenai bangsa. Namun pengertian tentang etnografi tidak hanya sampai sebatas itu. Burhan Bungin ( 2008:220) mengatakan etnografi merupakan embrio dari antropologi. Artinya etnografi lahir dari antropologi di mana jika kita berbicara etnografi maka kita tidak lepas dari antropologi setidaknya kita sudah mempelajari dasar dari antropologi. Etnografi merupakan ciri khas antropologi artinya etnografi merupakan metode penelitian lapangan asli dari antropologi ( Marzali 2005:42).
Etnografi biasanya berisikan/menceritakan tentang suku bangsa atau suatu masyarakat yang biasanya diceritakan yaitu mengenai kebudayaan suku atau masyarakat tersebut. Dalam membuat sebuah etnografi, seorang penulis etnografi (etnografer) selalu hidup atau tinggal bersama dengan masyarakat yang ditelitinya yang lamanya tidak dapat dipastikan, ada yang berbulan-bulan dan ada juga sampai bertahun-tahun. Sewaktu meneliti masyarakat seorang etnografer biasanya melakukan pendekatan secara holistik dan mendiskripsikannya secara mendalam atau menditeil untuk memproleh native’s point of view. Serta metode pengumpulan data yang digunakan biasanya wawancara mendalam ( depth interview) dan obserpasi partisipasi di mana metode pengumpulan data ini sangat sesuai dengan tujuan awal yaitu mendeskripsiakan secara mendalam.
Membuat etnografi juga merupakan hal yang wajib dilakukan uuntuk para sarjana antropologi. Seperti yang ditulis oleh Marzali (2005: 42):
“ Bagaimanapun, etnografi adalah pekerjaan tingkat awal dari seorang ahli antropologi yang propesional. Etnografi adalah satu pekerjaan inisiasi bagi yang ingin manjadi ahli antropologi professional. Seseorang tidak mungkin dapat diakui sebagai seorang ahli antropologi professional jika sebelumnya dia tidak melakukan sebuah etnografi, dan melaporkan hasil penelitiannya. Hasil penelitiannya ini harus dinilai kualitasnya…Untuk meningkat ke peringkat yang lebih tinggi maka…pekerjaan yang harus dilakukan selanjutnya adalah apa yang disebut sebagai comperative study, basik secara diakronis maupun secara sinkronis”
Jika kita membaca tulisan tersebut, terlihat penulis ingin menekankan bahwa membuat etnografi itu merupakan suatu kewajiban. Sesorang sarjana antropologi wajib menghasilkan sebuah etnografi jika belum maka seseorang tersebut belum dikatakan seorang sarjana antropologi. Namun jika sudah maka seseorang tersebut berhak untuk dikatakan seorang sarjana antropologi namun belum bisa dikatakan sebagai ahli antropologi sesungguhnya ( ahli etnologi ). Seseorang dikatakan ahli etnologi apabila seseorang tersebut melakukan pekerjaan yang lebih tinggi yaitu comparative study dalam basic diakronis maupun sinkronis.
Daftar Buku
Marzali, Amri.2005. Antropologi dan Pembangunan Indonesia, Kencana, Jakarta.
Bungin, Burhan.2008. Penelitian Kualitatif, Kencana, Jakarta.
Read More...
10.9.09
Kula ring
Kula merupakan suatu sistem perdagangan yang dilakukan dengan cara barter di mana saat pertukaran barang-barang ( kerajinan, makanan dan alat-alat rumah tangga ) berlangsung selalu diadakan juga pertukaran benda-benda perhiasan yang dianggap penting dan memiliki nilai. Benda yang dianggap sangat berharga tadi yaitu kalung kerang ( sulave ) dan gelang kerang (mwali). Kalung kerang ( sulave ) yaitu sebuah kalang yang terbuat dari kulit tiram dan susunannya sesuai dengan arah jarum jam. Sedangakan gelang ( mwali ) yaitu sebuah gelang putih yang susunannya berlawanan dengan arah jarum jam. Benda-benda ini biasanya dipertukarkan ke suatu pulau dan kepulau lainnya sesuai dengan arah jarum jam untuk sulave dan sementara mwali dipertukarkan berlawanan dengan arah jarum jam. Perjalanan kula biasanya hanya dilakukan oleh kaum pria. Sebelum perjalanan kula dilakukan ke tempat lain biasanya terlebih dahulu diadakan upacara-upacara keagamaan agar perjalanannya lancar dan aman. Benda-benda yang terutama dipertukarkan dalam perjalanan kula yaitu
benda-benda yang dianggap paling tinggi nilainya seperti sulave dan mwali tadi. Benda-benda inilah yang paling utama dipertukarkan dengan kata lain benda-benda ini salalu ikut dipertukarkan. Misalnya: seseorang yang menerima hadiah berupa sulave atau mwali dari orang yang bukan berasal dari tempatnya maka orang tersebut berutang untuk membalas hadiah yang pernah diterimanya di kemudian hari atau sewaktu mereka bertemu kembali.
Pertukaran kula juga merupakan hal yang menunjukkan status kelas sosial seseorang terutama pada subklen orang tersebut. Semakin banyak keterlibatan seseorang dalam kula maka semakin banyak pula pengaruh dan hubungannya dangan orang-orang yang ada di daerah lain dan di tempatnya sendiri. Serta ketenaran seseorang akan benda-benda berharga yang dimilikinya merupakan perwujutan yang menunjukan status dan kekuasaannya.
Kula juga merupakan suatu alat untuk menjalin hubungan kerjasama denga daerah –daerah yang berada di luar pulau mereka sendiri. Di mana dengan adanya sistem kula ini maka secara tidak langsung mereka telah menjalin hubungan kerjasama meskipun sebatas dalam bentuk perdagangan. Kula juga merupakan semacam pakta perdamain atau menciptakan perdamaian regional yang dulunya mungkin bermusuhan maka dengan adanya kula ini permusuhan tersebut dapat diredamkan atau dapat berdamai kembali karena adanya rantai perdagangan kula tadi.
Read More...
18.4.09
Difusi
Bentuk Penyebaran kebudayaan juga dapat terjadi dengan berbagai cara. Antara lain:
a. Adanya individu-individu tertentu yang membawa unsur-unsur kebudayaannya ke tempat yang jauh. Misalnya para pelaut dan pendeta. Mereka pergi hingga jauh ke suatu tempat dan mereka mendifusikan budaya-budaya mereka, darimana mereka berasal yang mana hal ini biasanya dilakukan para pendeta.
b. Penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang dilakukan oleh individu-idividu dalam suatu kelompok dengan adanya pertemuan antara individu-individu kelompok yang lain. Disinilah terjadi proses difusi budaya dimana mereka saling mempelajari dan saling memahami antara budaya mereka masing-masing.
19.2.09
Teori-teori Evolusi Kebudayaan
Teori-teori Evolusi Kebudayaan
By
Radinton Malau
.Proses Evolusi Sosial Secara Universal
• Menurut konsep tentang evolusi secara universal mengatakan. Bahwa masyarakat manusia berkembang secara lambat ( berevolusi ) dari tingkat-tingkat rendah dan sederhana menuju ke tingkat yang lebih tinggi dan kompleks. Dimana kecepatan perkembangannya atau proses evolusinya berbeda-beda setiap wilayah yang ada di muka bumi ini.
• Itulah sebabnya ada kita jumpai masyarat yang sudah maju, masyarakat yang masih hidup dalam proses menuju kemajuan dan masyarakat yang masih hidup seperti zaman dahulu.
Teori Evolusi Sosial Universal
H. Spencer
H. Spencer mengemukakan dua teori ( Koentjaraningrat, 1980: 34-37 )yaitu sebagai berikut :
- Teori tentang evolusi hukum dalam masyarakat.
- Teori mengenai asal mula religi.
1. Teori tentang evolusi hukum dalam masyarakat.
Spencer mengatakan bahwa hukum yang ada dalam masyarakat pada awalnya adalah hukum keramat. Hukum keramat bersumber atau berasal dari nenek moyang yang berupa aturan hidup dan pergaulan. Masyarakat yakin dan takut, apabila melanggar hukum ini maka nenek moyang akan marah. Selanjutnya masyarakat manusia semakin komplex sehingga hukum keramat tadi semakin berkurang pengaruhnya terhadap keadaan masyarakat atau hukum keramat tersebut tidak cocok lagi.
Maka timbullah hukum sekuler yaitu hukum yang berlandaskan azas saling butuh-membutuhkan secara timbal balik di dalam masyarakat. Namun karena jumlah masyarakat semakin banyak maka dibutuhkan sebuah kekuasaan otoriter dari raja untuk menjaga hukum sekuler tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, timbullah masyarakat beragama sehingga kekuasaan otoriter Rajapun tidak lagi cukup. Untuk mengatasi hal tersebut , ditanamkanlah suatu keyakinan kepada masyarakat yang mengatakan bahwa raja adalah keturunan dewa sehingga hukum yang dijalankan adalah hukum keramat.
Pada perkembangan selanjutnya timbullah masyarakat industri,dimana kehidupan manusia semakin bersifat individualis yaitu suatu sifat yang mementingkan diri sendiri tanpa melihat kepentingan bersama. Sehingga hukum keramat raja tidak lagi mampu untuk mengatur kehidupan masyarakat. Maka munculah hukum baru yang berazaskan saling butuh-membutuhkan antara masyarakat. Lahirlah suatu hukum baru yang disebut dengan undang-undang.
- Teori mengenai asal mula religi.
Spencer megatakan bahwa semua bangasa yang ada di dunia ini, religi itu dimulai dengan adanya rasa sadar dan takut akan maut. Spencer mengatakan bahwa bentuk religi yang tertua adalah religi terhadap penyambahan roh-roh nenek moyang moyang yang merupakan personifikasi dari jiwa-jiwa orang yang telah meninggal. Bentuk religi yang tertua ini pada semua bangsa di dunia ini akan berevolusi ke bentuk religi yang lebih komplex yaitu penyembahan kepada dewa-dewa, seperti dewa kejayaan, dewa perang, dewa kebijaksaan, dewa kecantikan, dewa maut ( konetjaranigrat,1980:35 ) dan dewa lainnya.
Elovusi dari religi itu dimulai dari penyembahan kepada nenek moyang ke tingkat penyembahan dewa-dewa.
Kebudayaan berevolusi karena didorong oleh suatu kekuatan mutlak yang disebut dengan evolusi universal. H.Spencer berpendapat bahwa perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari setiap bangsa di dunia akan melewati tingkat-tingkat yang sama. Namun Ia tidak mengabaikan fakta bahwa perkembangan dari tiap-tiap masyarakat atau sub-sub kebudayaan dapat mengalami proses evolusi dalam tingkat-tingkat yang berbeda.
Dalam permasalaha tersebut Spencer juga memberikan pandangannya terhadap proses evolusi secara umum. Spencer mengatakan, dalam evolusi sosial aturan-aturan hidup manusia serta hukum yang dapat dipaksakan tahan dalam masyarakat, adalah hukum yang melindungi kebutuhan para warga masyarakat yang paling cocok dengan masyarakat di mana mereka hidup.
Teori evolusi keluarga J.J. Bachofen
Menurut Bechofen bahwa di seluruh dunia ini, evolusi keluarga berkembang melalui empat tahapan ( Koentjaraningrat, 1980 ) yaitu sebagai berikut :
1. Tahapan Promiskuitas : di mana manusia hidup serupa sekawan binatang berkelompok, laki-laki dan wanita berhubungan bebas…sehingga melahirkan keturuna tanpa ada ikatan ( Koentjaranigrat, 1980: 38 ) pada tahapan ini kehidupan manusia sama dengan kehidupan binatang yang hidup berkelompok. Pada tahapan ini, laki-laki dan perempuan bebas melakukan hubungan perkawinan dengan yang lain tanpa ada ikatan kelurga dan menghasilkan keturunan tanpa ada terjadi ikatan keluarga seperti sekarang ini.
2. Lambat laun manusia semakin sadar akan hubungan ibu dan anak, tetapi anak belum mengenal ayahnya melaikan hanya masih mengenal ibunya. Dalam keluarga inti, ibulah yang menjadi kepala keluarga dan yang mewarisi garis keturunan. Pada tahapan ini disebut tahapan matriarchate. Pada tahapan ini perkawinan ibu dan anak dihindari sehingga muncullah adat exogami
3. Sistem Patriarchate : dimana ayahlah yang menjadi kepala keluarga serta ayah yang mewarisi garis keturunan. Perubahan dari matriarchate ke tingkat patriarcahte terjadi karena laki-laki merasa tidak puas dengan situasi keadaan sosial yang menjadikan wanita sebagai kepala keluarga. Sehingga para pria mengambil calon istrinya dari kelompok-kelompok yang lain dan dibawanya ke kelompoknya sendiri serta menetap di sana. Sehingga keturunannyapun tetap menetap bersama mereka.
4. Pada tahapan yang terakhir, patriarchate lambat laun hilang dan berobah menjadi susunan kekerabatan yang disebut Bachofen susunan parental. Pada tingkat terakhir ini perkawinan tidak selalu dari luar kelopok (exogami) tetapi juga dari dalam kelompok yang sama (endogami). Hal ini menjadikan anak-anak bebas berhubungan langsung dengan kelurga ibu maupun ayah.
Teori Evolusi Kebudayaan di Indonesia
G.A.Wilken
• G.A.Wilken merumuskan sebuah teori tentang tektonimi yaitu tentang hakekat perkawinan. Ia berpendapat bahwa pada mulanya maskawin hanya merupakan sebuah alat perdamaian antara pengantin pria dan pengantin wanita setelah berlangsung kawin lari.
• Ini sering terjadi pada masa peralihan dari tingkat matriarchate ke tingkat patriarchate.
Teori Evolusi Kebudayaan
L.H.Morgan
Menurut Morgan evolusi kebudayaan secara universal melalui delapan tahapan yaitu:
1. Zaman Liar Tua. Zaman sejak manusia ada samapai menemukan api, kemudian manusia menemukan keahlian meramu dan mencari akar-akar tumbuhan liar untuk hidup.
2. Zaman Liar Madya. Zaman di mana manusia menemukan senjata busur dan panah. Pada zaman ini manusia mulai merobah mata pencahariannya dari meramu menjadi pencari ikan.
3. Zaman Liar Muda. Pada zaman manusia menemukan senjata busur dan panah sampai memiliki kepandaian untuk membuat alat-alat dari tembikar namun kehidupannya masih berburu.
4. Zaman Barbar Tua. Zaman sejak manusia memiliki kepandaian membuat tembikar sampai manusia beternak dan bercocok tanam.
5. Zaman Barbar Madya. Zaman sejak manusia beternak dan bercocok tanam samapai menemukan kepandaian membuat alat-alat atau benda-benda dari logam
6. Zaman Barbar Muda. Zaman sejak manusia memiliki kepandaian membuat alat-alat dari logam sampai manusia mengenal tulisan.
7. Zaman Peradaban Purba, menghasilakan beberapa peradapan klasik zaman batu dan logam
8. Zaman Masa Kini, sejak zaman peradapan klasik sampai sekarang
Teori Evolusi Religi
E.B. Tylor
E.B.Tylor berpendapat, asal mula religi adalah adanya kesadaran manusia akan adanya jiwa. Kesadaran ini disebabkan oleh dua hal: ( Koentjaraningrat 1980:48)
1. Adanya perbedaan yang tampak pada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati. Manusai sadar bahwa ketika manusai hidup ada sesuatu yang menggerakkan dan kekuatan yang menggerakkan manusia itu disebut dengan jiwa
2. Peristiwa mimpi, di mana manusia melihat dirinya di tempat lain ( bukan di tempat ia sedang tidur ). Hal ini menyebabkan manusia membedakan antara tubuh jasmaninya yang berada di tempat tidur dengan rohaninya di tempat-tempat lain yangdisebut jiwa.
Selanjutnya Tylor mengatakan bahwa jiwa yang lepas ke alam disebutnya denga roh atau mahluk halus. Inilah menyebabkan manusia berkeyakinan kepada roh-roh yang menempati alam. Sehingga manusia memberikan penghormatan berupa upacara doa, sesajian dll. Inilah disebut Tylor sebagai anamism.
Pada tingkat selanjutnya manusia yakin terhadap gejala gerak alam disebabkan oleh mahluk-mahluk halus yang menempati alam tersebut. Kemudian jiwa alam tersebut dipersonifikasikan sebagai dewa-dewa alam. Pada tingkat selanjutnya manusia yakin bahwa dewa-dewa tersebut memiliki dewa tertinggi atau raja dewa. Hingga akhirnya manusia berkeyakinan pada satu Tuhan.
Teori Mengenai Ilmu Gaib dan Religi
J.G. Frazer
Pada mulanya manusia hanya menggunakan akalnya untuk memecahkan masalah. Namun lambat laun sistem pengetahuan manusai semakin terbatas untuk memecahkan masalah bahkan tidak sanggup lagi memecahkan masalah. Sehingga manusia memecahkannya dengan magic, ilmu gaib. Magic adalah semua tindakan manusia untuk mencapai sesuatu dengan menggunakan kekuatan-kekuatan alam dan luar lainnya. (Koentjaraningrat 1980:54)
Namun dalam perkembangan selanjutnya kekuatan magic tersebut tidak selamnya berhasil. Maka manusia mulai sadar bahwa di alam ini ada yang menempatinya yaitu mahluk-mahluk halus. Mulailah manusai mencari hubungannya dengan mahluk-mahluk halus tersebut. Dengan itu timbullah religi. Religi adalah segala sistem tingkah laku manusia untuk memproleh sesuatu dengan cara memasrahkan diri kepada penciptanya.
Daftar Pustaka
Koentjaraningrat.1980.Sejarah Teori Antropologi.Jakarta:UniversitasIndonesia.
Supardan,Dadang.2007.Pengantar Ilmu Sosial.Bandung:Bumi Aksara.